Masa kejayaan Mataram dilihat dari perkembangan budaya yang maju dan sebagai pusat ekonomi yang maju pesat. Tidak di ketahui secara pasti kapan dan dari mana orang kalang masuk ke dalam Kerajaan Mataram, kehidupan mereka yang nomaden dan mulai berkembang dimana dengan keahlian mereka sebagai ahli kayu yang mampu membuat rumah tinggal yang cukup megah dengan nilai seni yang tinggi. Keberadaan orang kalang sendiri sudah ada pada jaman Mataram ataupun di masa kerajaan Pajang di Jawa sebelum Mataram. Dan mereka telah disebutkan dalam salah satu batu candi Borobudur prasasti di Tanah Jawa. Mereka adalah golongan minoritas yang mempunyai kemampuan keras dan ulet dalam berdagang dan berjiwa seni yang tinggi. Nilai -2 tersebut menjadi faktor yang menyebabkan orang kalang memperoleh pengakuan pada kejayaan pada saat itu. oleh karena keahliannya sebagai seorang ahli kayu yang dapat mencari dan memilih jenis kayu bermutu tinggi serta fungsinya, maka pada masa kedudukan VOC orang Kalang di beri wilayah untuk tinggal dan menetap dipinggiran hutan di pulau Jawa. banguna asli orang Kalang adalah rumah Joglo sehingga mampu mengadopsi dan mencapurkan gaya arsitektur salah satunya art -deco ( Jawa & Belanda ).Dan pada saat itu mereka berkembang pada bidang usaha lainnya seperti menjadi pengusaha perak ( kriya perak), emas ( kriya emas) ,perunggu ( kriya perunggu ) dan candu.
Tersebutlah Pak Tembong yang mempunyai kehidupan dan aktifitas yang sampai saat ini menjadi cerita di masyarakat Kotagede. Pak Tembong di pandang sebagai seorang yang mampu menaikkan derajat orang kalang karena kekayaan dan harta yang berlimpah, yang konon ingin mendirikan jembatan yang menghubungkan rumah Pak Tembong dengan anak-anaknya yang berbatasan dengan sungai, namun oleh Sri Sultan HB VII yang berkuasa pada saat itu tidak mengijinkan pembangunan jembatan tersebut.,tidak hanya itu saja untuk membuktikan kekayaannya, pak Tembong juga ingin membuat kamar mandi dengan koin emas, namun sekali lagi keinginan tersebut tidak terlaksana sebab Sri Sultan tidak mengijinkan pembangunan tersebut, namun koin tersebut boleh dipasang asal pemasangannya miring pada ubin rumah Pak Tembong. Di karenakan posisi tersebut pak Tembong mengurungkan niatnya dan menyimpannya pada salah satu dari 7 sumur yang dia buatnya.Entah hal tersebut benar atau sekedar dongeng, yang pasti sejarah tentang orang Kalang dan Pak Tembong terukir di dalam megahnya bangunan-banguna bernilai tinggi yang tersebar di Kotagede, yang salah satu peninggalannya telah dibeli oleh Bapak Harto Soeharja ( HS ) yang di fungsikan sebagai restaurant dan dikelola oleh anaknya dan diberi nama Omah Dhuwur Restaurant.
Comments
Post new comment